Memaknai Idulfitri: Lebih Dari Sekadar Momen untuk Merayakan Kemenangan

22 April 2023 13:42 / Komunikasi Korporat PG / 1996x dilihat

Setelah menjalankan ibadah puasa pada Bulan Ramadan, Syawal menjadi momentum untuk merayakan kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Hari Raya Idulfitri menjadi momen perayaan bagi umat muslim untuk menikmati kemenangan atas apa yang sudah diperjuangkan selama Bulan Ramadan. Selain perayaan kemenangan, terdapat juga makna lain dalam perayaan yang menjadi momen sakral bagi umat muslim di seluruh dunia ini.

Pada saat berpuasa, kita tak hanya dituntut untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Lebih dari itu, puasa membiasakan kita untuk membentuk kebiasaan baru. Berpuasa selama satu bulan penuh melatih diri untuk membentuk sebuah kebiasaan baru, yakni kebiasaanmembatasi diri.

Pada tahun 1960, Maxwell Maltz, seorang ahli bedah kosmetik asal Amerika menerbitkan sebuah buku berjudul “Psycho-Cybernetics”. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa rata-rata seseorang untuk mengubah kebiasaan (habit) lama ke kebiasaan baru membutuhkan waktu selama 21 hari. Hal itu dibuktikan melalui pengakuan para pasiennya ketika melakukan operasi plastik. Menurut mereka, dibutuhkan waktu selama 21 hari agar ‘terbiasa’ dengan dengan wajah barunya. Dalam buku yang sama, Maltz juga mengambil kesimpulan dari para pasien yang menjalankan amputasi. Hasilnya, perlu waktu sekitar tiga minggu bagi mereka untuk terbiasa dan beradaptasi dengan keadaan yang baru.

Lalu pada tahun 2009, Phillippa Lally, seorang psikologi kesehatan juga melakukan penelitian yang bertujuan untuk mencari tahu waktu yang dibutuhkan untuk membentuk suatu kebiasaan yang baru. Dari 96 partisipan, didapat kesimpulan bahwa kebiasaan baru akan terbentuk selama 18 hingga 254 hari. Ia pun menambahkan bahwa jika di rata-rata, butuh sekitar 66 hari bagi seorang individu untuk membentuk sebuah kebiasaan baru. Melalui dua pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kebiasaan baru bisa dibentuk paling singkat selama kurang lebih 18 hari atau tiga minggu.

Sekarang, mari kembali ke pembahasan sebelumnya. Selama satu bulan, kita dibiasakan untuk tidak makan dan tidak minum jika tidak pada waktunya. Selama satu bulan, kita dibiasakan untuk makan sebanyak dua kali, yakni pada sahur dan berbuka. Menariknya, ada makna tersirat di mana selama bulan Ramadan, kita dibiasakan untuk tidak makan secara berlebihan. Jika biasanya kita bisa makan tiga kali bahkan lebih, selama satu bulan kita dibiasakan untuk mengurangi frekuensi makan.

Selain berpuasa, selama ramadan kita juga dibiasakan untuk lebih sering melakukan kegiatan yang positif. Banyak sekali kegiatan-kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk meramaikan masjid seperti kajian sore, One Day One Juz, iktikaf, dan kegiatan positif lainnya. Tak jarang pula, selama bulan Ramadan kita akan melihat banyak sekali masyarakat atau komunitas yang melakukan aksi sosial seperti berbagi takjil atau makanan di pinggir jalan.

Oleh sebab itu, Ramadan tak hanya menjadi ajang untuk beribadah, tapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri dengan terbentuknya berbagai kebiasaan baru. Melalui pembiasaan yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan, umat muslim akan mampu menjadi pribadi yang kuat menahan diri dari berbagai hal-hal negatif serta menjadi pribadi yang tetap konsisten dalam berbuat kebaikan.

Begitu pula dengan momen Idulfitri, tidak hanya menjadi wadah silaturahmi di hari kemenangan, tetapi juga menjadi pengingat agar kita tetap dapat menjalankan berbagai kebiasaan baik yang telah dijalani selama Ramadan.

Semoga kita semua dapat memaknai Hari Raya Idulfitri dengan baik dan merayakannya dengan penuh sukacita. Dengan begitu, perayaan Hari Raya Idulfitri dapat sesuai dengan makna aslinya, yakni lahir kembali sebagai pribadi yang lebih baik. (*ZAH/FMS/WIL)

Berita Terbaru

06 Apr 2024
Mudik Asyik Bersama BUMN 2024, Petrokimia Gresik Berangkatkan 200 Pemudik ke Empat Rute di Jawa Timur
06 April 2024 21:35 / Komunikasi Korporat PG / 198x dilihat
03 Apr 2024