Sarapan Besar Bantu Kontrol Gula Darah Diabetesi

05 Maret 2015 10:43 / http://health.kompas.com / 3879x dilihat
KOMPAS.com - Ada pesan positif dalam pepatah lama yang menyebutkan ‘Sarapan seperti raja, makan siang seperti seorang pangeran, dan makan malam seperti pengemis’. Yang paling kentara adalah porsi utama pada sarapan. Ya, sarapan tidak boleh dilewatkan dan porsinya harus cukup besar sebagai energi untuk menjalani hari.

Pepatah tersebut pun dapat diadopsi oleh diabetesi. Studi terbaru menunjukkan diabetesi yang menyantap sarapan besar serta makan malam dengan porsi kecil mengalami sedikit episode untuk gula darah yang tinggi dibandingkan yang melakukan hal sebaliknya.
Gula darah, disebut juga sebagai glukosa darah, dikontrol oleh jam internal tubuh. "Dengan kadar glukosa darah mencapai puncaknya setelah makan malam,” ujar Dr. Daniela Jakubowicz.
Sayangnya, mereka dengan diabetes tipe 2, dikatakan Dr. Jakubowicz, kerap menetapkan waktu makannya berlawanan dengan jam internal tubuh. “Mereka sering melewatkan sarapan, sementara di malam hari mengonsumsi makanan tinggi kalori. Tidak sarapan ini hanya akan membuat kontrol gula darah menjadi jelek,” lanjut periset dari Tel Aviv University’s Wolfson Medical Center, Israel.
Studi melibatkan 8 pria dan 10 perempuan dengan diabetes tipe 2 berusia 30-70 tahun. Mereka mendapat pengobatan baik dengan obat diabetes metformin serta anjuran makan atau anjuran diet saja.
Secara acak, mereka menjalani rencana makan terdiri dari sarapan 700 kalori serta makan malam 200 kalori atau sebaliknya. Keduanya juga menyantap makan siang sebesar 600 kalori.
Tim periset menjumpai bahwa partisipan yang mengonsumsi sarapan porsi besar dan makan malam dengan porsi kecil, kadar glukosa pasca makannya 20 persen lebih rendah dan kadar insulin 20 persen lebih tinggi.
“Studi ini menunjukkan bahwa sarapan besar dan mengurangi porsi makan malam bisa menjadi pilihan bermanfaat dalam mengelola keseimbangan glukosa sepanjang hari. Dan dapat dipertimbangkan sebagai strategi terapetik pada diabetes tipe 2,” urai Dr. Jakubowicz yang penelitiannya dipublikasikan dalam Diabetologia.
Namun, hasil studi ini, seperti dikatakan Anna Taylor, dietisi di Cleveland Clinic, Ohio, kemungkinan belum bisa diaplikasikan pada kelompok lain dengan diabetes. Diabetesi yang menggunakan insulin disarankan untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter yang merawat sebelum melakukan penyesuaian makan ini. (Lusia Kus Anna)

Berita Terbaru

04 Aug 2022
Petrokimia Gresik Hadirkan Tiga Produk Baru untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian di Indonesia
04 Agustus 2022 14:52 / Komunikasi Korporat PG / 122x dilihat
03 Aug 2022
31 Jul 2022
Gebyar PETROPHORIA 50 Petrokimia Gresik
31 Juli 2022 12:33 / Komunikasi Korporat PG / 91x dilihat
30 Jul 2022
Napak Tilas Setengah Abad Petrokimia Gresik
30 Juli 2022 19:00 / Komunikasi Korporat PG / 97x dilihat