Sarapan Besar Bantu Kontrol Gula Darah Diabetesi

05 Maret 2015 10:43 / http://health.kompas.com / 6135x dilihat
KOMPAS.com - Ada pesan positif dalam pepatah lama yang menyebutkan ‘Sarapan seperti raja, makan siang seperti seorang pangeran, dan makan malam seperti pengemis’. Yang paling kentara adalah porsi utama pada sarapan. Ya, sarapan tidak boleh dilewatkan dan porsinya harus cukup besar sebagai energi untuk menjalani hari.

Pepatah tersebut pun dapat diadopsi oleh diabetesi. Studi terbaru menunjukkan diabetesi yang menyantap sarapan besar serta makan malam dengan porsi kecil mengalami sedikit episode untuk gula darah yang tinggi dibandingkan yang melakukan hal sebaliknya.
Gula darah, disebut juga sebagai glukosa darah, dikontrol oleh jam internal tubuh. "Dengan kadar glukosa darah mencapai puncaknya setelah makan malam,” ujar Dr. Daniela Jakubowicz.
Sayangnya, mereka dengan diabetes tipe 2, dikatakan Dr. Jakubowicz, kerap menetapkan waktu makannya berlawanan dengan jam internal tubuh. “Mereka sering melewatkan sarapan, sementara di malam hari mengonsumsi makanan tinggi kalori. Tidak sarapan ini hanya akan membuat kontrol gula darah menjadi jelek,” lanjut periset dari Tel Aviv University’s Wolfson Medical Center, Israel.
Studi melibatkan 8 pria dan 10 perempuan dengan diabetes tipe 2 berusia 30-70 tahun. Mereka mendapat pengobatan baik dengan obat diabetes metformin serta anjuran makan atau anjuran diet saja.
Secara acak, mereka menjalani rencana makan terdiri dari sarapan 700 kalori serta makan malam 200 kalori atau sebaliknya. Keduanya juga menyantap makan siang sebesar 600 kalori.
Tim periset menjumpai bahwa partisipan yang mengonsumsi sarapan porsi besar dan makan malam dengan porsi kecil, kadar glukosa pasca makannya 20 persen lebih rendah dan kadar insulin 20 persen lebih tinggi.
“Studi ini menunjukkan bahwa sarapan besar dan mengurangi porsi makan malam bisa menjadi pilihan bermanfaat dalam mengelola keseimbangan glukosa sepanjang hari. Dan dapat dipertimbangkan sebagai strategi terapetik pada diabetes tipe 2,” urai Dr. Jakubowicz yang penelitiannya dipublikasikan dalam Diabetologia.
Namun, hasil studi ini, seperti dikatakan Anna Taylor, dietisi di Cleveland Clinic, Ohio, kemungkinan belum bisa diaplikasikan pada kelompok lain dengan diabetes. Diabetesi yang menggunakan insulin disarankan untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter yang merawat sebelum melakukan penyesuaian makan ini. (Lusia Kus Anna)

Artikel Terbaru

07 Jul 2023
Sejuta Manfaat dalam Satu Gelas Teh Chamomile yang Jarang Diketahui!
07 Juli 2023 11:18 / Komunikasi Korporat PG / 49734x dilihat
04 Jul 2023
Waspadai! Ini Ciri-Ciri Tanaman Kekurangan Unsur Hara!
04 Juli 2023 07:00 / Komunikasi Korporat PG / 65953x dilihat
27 May 2023
Tingkatkan Kesehatan Melalui Pemanfaatan TOGA
27 Mei 2023 12:29 / Komunikasi Korporat PG / 6054x dilihat
02 May 2023
Kontribusi Petrokimia Gresik dalam Memajukan Pendidikan di Indonesia
02 Mei 2023 11:41 / Komunikasi Korporat PG / 4161x dilihat
22 Apr 2023
Memaknai Idulfitri: Lebih Dari Sekadar Momen untuk Merayakan Kemenangan
22 April 2023 13:42 / Komunikasi Korporat PG / 3009x dilihat