Tanah Makin Segar Berkat Pengolahan Lahan Pasca Panen

08 Februari 2023 17:45 / Komunikasi Korporat PG / 5238x dilihat

After care atau penanganan lanjutan pada dunia pertanian mungkin terdengar asing bagi sebagian petani. After care merupakan salah satu tahapan penting yang masih jarang diterapkan yang berfungsi untuk mempertahankan kualitas dari tanah. Lahan pertanian yang dibiarkan terlalu lama pada saat setelah panen dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah. Akibatnya, hal tersebut dapat berpengaruh pada komoditas yang dihasilkan.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan pada saat petani telah memanen? Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mengelola tanah pasca panen. Membersihkan lahan yang telah selesai digunakan merupakan prosedur pertama dari proses keseluruhan. Tahapan ini berfungsi untuk mengambil batang dan sisa-sisa panen lainnya, sekaligus merawat kondisi tanah agar gulma tidak menyebar. Sisa limbah dan beberapa jenis gulma yang telah dibersihkan dari dalam tanah tersebut, kemudian dapat diubah menjadi pupuk kompos dengan bantuan dekomposer Petro Gladiator.

Setelah tanah selesai dibersihkan dari sisa-sisa limbah panen dan gulma, maka masuk ke tahapan kedua dengan mendiamkan tanah selama sekitar dua minggu dan tidak lebih. Tujuannya adalah agar kondisi tanah bisa membaik agar siap untuk ditanami kembali. Tidak lupa untuk selalu melakukan pengecekan rutin, agar tidak ditemukan adanya gulma yang muncul.

Dua minggu setelah tanah selesai diberi jeda, maka proses pengolahan tanah pun telah siap dilakukan. Pengolahan tanah ini melalui beberapa langkah supaya tanah bisa subur, antara lain pembajakan tanah, pemberian pupuk organik, dan diakhiri dengan membuat bedengan secara memanjang.

Lahan yang telah melalui berbagai macam tahapan pengolahan tersebut perlu diperhatikan kelembapannya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan biji tanaman sangat bergantung pada kelembaban tanah. Kelembaban tanah dapat diukur menggunakan Soil Tester dengan menancapkannya ke tanah yang akan diuji kelembabannya selama 10 menit. Soil Tester memiliki rentang indikator dengan skala 1-10. Jika alat menunjukkan angka 1-3, berarti tanah bersifat kering. Jika alat menunjukkan angka 4-7, berarti tanah bersifat lembab. Kemudian jika alat menunjukkan angka 8-10, berarti tanah yang diukur bersifat basah. Pertumbuhan pada biji tanaman akan menjadi baik jika kondisi tanah terjaga kelembabannya (menunjukkan angka 4-7 pada Soil Tester).

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan pada saat pengolahan tanah adalah tingkat keasaman tanah. Petani dapat mengukur tingkat keasaman tanah secara mudah menggunakan kertas lakmus dengan mengambil sampel tanah dari lima titik berbeda yang kemudian dibasahi air dengan perbandingan 1:1. Setelah campuran air terpisah dan tanah mengendap, celupkan ujung kertas lakmus pada air selama 1 menit tanpa menyentuh endapan tanah. Jika kertas berwarna merah, menunjukkan bahwa ph tanah bersifat asam. Jika kertas berwarna biru, menunjukkan bahwa tanah memiliki ph basa, dan jika kertas lakmus berubah menjadi ungu, artinya ph tanah bersifat netral. Apabila pada saat pengecekan kondisi keasaman tanah masih terlalu asam, maka bisa dinetralkan keasamannya dengan cara memberikan kapur pertanian.

Berbagai macam tahapan pengelolaan pasca panen tersebut kemudian ditutup dengan penerapan sistem rotasi tanam. Sistem ini merupakan sistem penanaman bergilir berbagai jenis tanaman di satu lahan yang sama. Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan sistem tersebut. Salah satunya yakni tekstur tanah akan tetap subur dan optimal pasca panen. Perlu diperhatikan pula urutan dari siklus penanaman sayuran agar hasil yang diperoleh bisa maksimal. Adapun urutan rotasi tanam yang baik adalah dengan mengikuti pola K-D-B-U (Kacang – Daun – Buah – Umbi).

urutan tanam siklus
siklus urutan tanam

Kacang

Kacang-kacangan dapat melakukan fiksasi unsur nitrogen dari alam bebas yang dapat memacu pertumbuhan vegetatif tanaman.

Daun/Sayuran

Sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, kubis, dan sawi identik dengan pertumbuhan vegetatif yang banyak memerlukan unsur nitrogen. Oleh karena itu, mereka akan tumbuh dengan cepat diatas tanah bekas kacang-kacangan

Buah

Tanaman buah seperti melon, semangka, dan timun tidak membutuhkan unsur nitrogen terlalu banyak. Pada saat berbunga buah lebih membutuhkan unsur fosfat, sedangkan saat berbuah lebih banyak membutuhkan unsur kalium. Untuk itu, buah-buahan lebih cocok ditanam setelah sayuran.

Umbi

Tanaman umbi-umbian seperti ubi, singkong, kentang, bengkoang, dan talas merupakan jenis tanaman yang paling rakus menyerap unsur hara. Untuk itu, tanaman jenis umbi-umbian sebaiknya ditanam pada urutan terakhir dan setelahnya ditanami kacang-kacangan untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Pengolahan pasca panen dapat mencegah susut bobot, memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan, mencegah kontaminasi bahan asing dan mencegah kerusakan fisik. Setiap pemilik lahan sebaiknya dapat mengaplikasikan setiap tahapan pengolahan lahan pasca panen ini dengan baik dan sesuai prosedur agar tanaman atau komoditas yang dihasilkan menjadi lebih melimpah dan berkualitas baik. (*/ZAH/FMS/WA/TRY)