Pakar: potensi iklim belum termanfaatkan untuk pertanian

29 April 2014 07:37 / http://www.antaranews.com / 5796x dilihat

Pewarta: Virna P Setyorini

Jakarta (ANTARA News) - Pakar Agroklimat IPB Yon Sugiarto mengatakan potensi dari kondisi iklim yang berbeda di setiap daerah yang dapat menguntungkan sektor pertanian belum termanfaatkan dengan baik.

"Tiap daerah memiliki iklim ekstrim berbeda karena memang karakteristik daerahnya berbeda. Ini jadi potensi iklim kalau petani bisa mengatur masa tanam," kata Yon kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Karakteristik iklim yang berbeda, menurut dia, tampak seperti yang terjadi di Pantura Jawa yang cenderung sangat panas dibanding daerah selatan saat kemarau.

Begitu juga karakter berbeda dapat dilihat di bagian barat Jawa yang curah hujannya lebih tinggi, sementara di wilayah timur akan lebih kering.

Yon mengatakan di Sumatera dan Kalimatan variabel iklimnya juga beda, dan kondisi dua pulau tersebut tidak rentan untuk lahan pertanian padi seperti Jawa. Ancaman iklim ekstrim terhadap perkebunan pun tidak seperti di Jawa.

"Apalagi daerah ekuator pola hujannya beda, mereka punya dua puncak musim hujan, jadi menguntungkan untuk pertanian," ujar dia.

Dengan kondisi tersebut, ia mengatakan petani di setiap daerah dapat memaksimalkan produksi dengan menyesuaikan masa tanam dan kondisi iklim yang berbeda.

"Harusnya (kondisi iklim) tidak ada masalah untuk stok pangan, kalau satu daerah kemarau daerah lain bisa mengoptimalkan produksi," ujar dia.

Hal yang menghambat, menurut dia, justru ketergantungan petani terhadap ketersedian pupuk dan benih. "Ini jadi tantangan bagi pemerintah untuk dapat mengadakan pupuk dan bibit disesuaikan dengan iklim di masing-masing daerah".

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat perlu didorong untuk memanfaatkan kondisi iklim sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pemerintah dapat mengembangkan tanaman lokal yang memang lebih mampu beradaptasi terhadap iklim, dan bukan mengarahkan masyarakat petani menanam tanaman lain yang justru rentan terhadap perubahan iklim.

"Seperti di Maluku itu banyak yang meninggalkan (tanaman) pala, lada, dan tanaman asli sana yang lebih tahan terhadap perubahan iklim justru beralih ke sawit. Harusnya kalau mau mengembangkan pangan di luar Jawa ya harus cari yang memang cocok di wilayah itu," ujar dia.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa iklim harus dilihat sebagai potensi, walau ada ancaman bencana di baliknya.(*)

Editor: Ruslan Burhani

http://www.antaranews.com/berita/431210/pakar-potensi-iklim-belum-termanfaatkan-untuk-pertanian

Berita / Reportase Terbaru

12 Aug 2025
Momen Kemerdekaan RI, Petrokimia Gresik Bangun Kebersamaan dengan Masyarakat Lewat "Citizen Games"
12 Agustus 2025 13:47 / Komunikasi Korporat PG / 78x dilihat
13 Mar 2025
PT Petrokimia Gresik Berhasil Mempertahankan Rekomendasi Sertifikat ISO 37001:2016
13 Maret 2025 10:52 / TKMR PG / 286x dilihat
21 Jul 2024
Wariskan DNA Inovatif, Petrokimia Gresik Luncurkan Buku Perjalanan 4 Tahun Transformasi Bisnis
21 Juli 2024 17:58 / Komunikasi Korporat PG / 357x dilihat
03 Oct 2023
Komitmen Petrokimia Gresik dalam Launching WBS Terintegrasi Pupuk Indonesia Group
03 Oktober 2023 09:15 / Komunikasi Korporat PG / 3233x dilihat
15 Jul 2023
Pererat Kolaborasi Demi Tingkatkan Suasana Harmonis Antar Karyawan, Petrokimia Gresik Gelar Corsa Festival
15 Juli 2023 11:34 / Komunikasi Korporat PG / 3679x dilihat
15 May 2023
Rayakan HUT Ke-51, Petrokimia Gresik Rilis Seragam Baru
15 Mei 2023 12:00 / Komunikasi Korporat PG / 5296x dilihat