Pakar: potensi iklim belum termanfaatkan untuk pertanian

29 April 2014 07:37 / http://www.antaranews.com / 2381x dilihat

Pewarta: Virna P Setyorini

Jakarta (ANTARA News) - Pakar Agroklimat IPB Yon Sugiarto mengatakan potensi dari kondisi iklim yang berbeda di setiap daerah yang dapat menguntungkan sektor pertanian belum termanfaatkan dengan baik.

"Tiap daerah memiliki iklim ekstrim berbeda karena memang karakteristik daerahnya berbeda. Ini jadi potensi iklim kalau petani bisa mengatur masa tanam," kata Yon kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Karakteristik iklim yang berbeda, menurut dia, tampak seperti yang terjadi di Pantura Jawa yang cenderung sangat panas dibanding daerah selatan saat kemarau.

Begitu juga karakter berbeda dapat dilihat di bagian barat Jawa yang curah hujannya lebih tinggi, sementara di wilayah timur akan lebih kering.

Yon mengatakan di Sumatera dan Kalimatan variabel iklimnya juga beda, dan kondisi dua pulau tersebut tidak rentan untuk lahan pertanian padi seperti Jawa. Ancaman iklim ekstrim terhadap perkebunan pun tidak seperti di Jawa.

"Apalagi daerah ekuator pola hujannya beda, mereka punya dua puncak musim hujan, jadi menguntungkan untuk pertanian," ujar dia.

Dengan kondisi tersebut, ia mengatakan petani di setiap daerah dapat memaksimalkan produksi dengan menyesuaikan masa tanam dan kondisi iklim yang berbeda.

"Harusnya (kondisi iklim) tidak ada masalah untuk stok pangan, kalau satu daerah kemarau daerah lain bisa mengoptimalkan produksi," ujar dia.

Hal yang menghambat, menurut dia, justru ketergantungan petani terhadap ketersedian pupuk dan benih. "Ini jadi tantangan bagi pemerintah untuk dapat mengadakan pupuk dan bibit disesuaikan dengan iklim di masing-masing daerah".

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat perlu didorong untuk memanfaatkan kondisi iklim sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pemerintah dapat mengembangkan tanaman lokal yang memang lebih mampu beradaptasi terhadap iklim, dan bukan mengarahkan masyarakat petani menanam tanaman lain yang justru rentan terhadap perubahan iklim.

"Seperti di Maluku itu banyak yang meninggalkan (tanaman) pala, lada, dan tanaman asli sana yang lebih tahan terhadap perubahan iklim justru beralih ke sawit. Harusnya kalau mau mengembangkan pangan di luar Jawa ya harus cari yang memang cocok di wilayah itu," ujar dia.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa iklim harus dilihat sebagai potensi, walau ada ancaman bencana di baliknya.(*)

Editor: Ruslan Burhani

http://www.antaranews.com/berita/431210/pakar-potensi-iklim-belum-termanfaatkan-untuk-pertanian

Berita Terbaru

27 Jan 2021
Bin Nahadi Jabat Komisaris Petrokimia Gresik
27 Januari 2021 17:09 / Komunikasi Korporat PG / 31x dilihat
26 Jan 2021
Pribadi yang Amanah Adalah Kunci Pencegahan Korupsi
26 Januari 2021 15:45 / Komunikasi Korporat PG / 87x dilihat
21 Jan 2021
Petrokimia Gresik Salurkan Bantuan CSR Bestro Full Cover Rp1,7 Miliar
21 Januari 2021 11:25 / Humas PG / 166x dilihat
20 Jan 2021
Petrokimia Gresik Dorong Distributor Tebus Pupuk Bersubsidi
20 Januari 2021 12:33 / Humas PG / 182x dilihat