PG Komitmen Siapkan Petani Muda

21 Maret 2016 14:15 / Humas PG / 2010

Sejarah mencatat Indonesia pernah mengalami masa swasembada beras pada tahun 1980-an. Bahkan saat itu, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan penghargaan istimewa kepada pemerintah atas prestasi ini.

Tampaknya prestasi swasembada beras itu sulit terulang di tahun-tahun berikutnya, bahkan seringkali Indonesia harus mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Salah satu penyebabnya jumlah petani produktif terus menurun jumlahnya, regenerasi petani di Indonesia sulit dilakukan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, 61% petani utama berusia lebih dari 45 tahun. Data ini mengindikasikan kaum muda kurang tertarik terhadap sektor pertanian. Hanya ada 12 persen saja petani di usia 25-34 tahun, dan 26 persen petani di usia 35-44 tahun.

PT Petrokimia Gresik (PG) melihat kondisi ini sebagai problem serius. Karena itu, produsen pupuk terlengkap nasional ini berkomitmen untuk menyiapkan petani muda, sehingga masalah regenerasi petani dapat teratasi. Komitmen itu diimplementasikan PG dengan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Program Pengembangan dan Pelatihan Pemuda di Bidang Pertanian.

Program itu adalah kerjasama antara PG dengan Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) dan Pelatihan Anak Tani Remaja (PATRA). Dalam acara penandatanganan MoU pada Senin (21/3/206) di Wisma Kebomas PG dihadiri Direktur Utama (Dirut) PT Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat; Dirut PG, Nugroho Christijanto; Wakil Gubernur (Wagub) Jatim, Saifullah Yusuf; Pendiri PATRA, K Imam Soejono; Ketua PNKT, Didik Mukrianto, Wakil Bupati (Wagub) Gresik; Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, dan Asisten II Pemkab Lamongan.

Dalam sambutannya, Dirut PG Nugroho Christijanto mengatakan, sekarang pemerintah Indonesia sangat konsen dengan program ketahanan pangan. Di dalam upaya mendukung kedaulatan pangan tersebut, PG sebagai produsen pupuk, memiliki keinginan untuk berpartisipasi secara aktif., Salah satunya dengan mengedukasi pemuda di bidang pertanian, khususnya di daerah-daerah atau desa-desa.

“Pemerintah mendorong produktivitas padi, tapi di sisi lain regenerasi petani belum berjalan maksimal. Anak muda di Indonesia enggan mendeklarasikan petani sebagai profesi yang handal,” ujar Dirut PG Nugroho Christijanto.

Kerjasama dengan PNKT dan PATRA adalah sebuah proses regenerasi petani. “Mudah-mudahan dengan MoU ini, potensi yang dimiliki masing-masing, baik PATRA maupun Karang Taruna bisa dimanfaatkan dan diaplikasikan dengan maksimal. Sehingga anak muda sekarang tertarik dengan dunia pertanian untuk mendorong kedaulatan pangan. Kami juga berharap dengan dukungan Pupuk Indonesia, kegiatan serupa dapat dilakukan dalam skala lebih luas lagi,” tambah Dirut PG Nugroho Chritijanto.

Sedangkan Pendiri PATRA, Imam Sujono mengatakan, sekarang anak petani semakin menjauh dari pertanian, kalau ini terus terjadi status Indonesia sebagai negara agraris akan hilang. “Bayangkan saja, di awal saya membentuk PATRA, dari 20 anak lelaki yang ada, 80 persen tidak bisa mencangkul, padahal mereka semua anak dari seorang petani,” ujar pensiunan penyuluh pertanian itu.

Didik Mukrianto, Ketua PNKT menyambut baik program mempersiapkan petani muda itu. “Mudah-mudahan niat baik ini menjadi pilot project dan bisa ditularkan ke seluruh Indonesia, sehingga menjadi gerakan bangkitnya petani muda di Indonesia. Saat ini banyak sarjana pertanian yang berubah maindset tentang pertanian, sehingga mereka beralih jalur dengan berusaha di bidang non-pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Wagub Jatim, Saifullah Yusuf mengapresiasi peran PG dalam mempersiapkan petani muda. “Banyak anak petani memilih bekerja di pabrik dibanding bertani seperti orangtuanya. Program PG ini selaras dengan program ketahanan pangan dari pemerintah pusat,” ujar Saifullah Yusuf.

Pilot Project PI

Dalam sambutannya, Dirut PI, Aas Asikin Idat menyambut baik kerjasama yang dilakukan PG dengan Patra dan PNKT. “Kerjasama ini akan menjadi pilot project, nanti akan kita lakukan program yang sama dengan anggota semua holding. Saya berharap ini bukan sebuah program saja, tapi menjadi gerakan yang terus-menerus, sehingga kita terhindar dari masalah impor,” ujar Dirut PI.

Selain itu, peserta pelatihan harus bias menularkan ilmunya kepada anak muda yang lain, sehingga jumlah petani yang sekarang menyusut terus berkembang. Penularan itu juga harus dilakukan pada petani yang sekarang ada, bisa membuat mereka lebih inovatif. (Humas PG)